Rabu, 07 November 2012

Hilang Akal Sehatku


Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pasti banyak dari kalian pernah yang melakukan sesuatu yang sepertinya tidak akan mungkin dilakukan dalam kondisi normal. Namun demikian, saat terpaksa atau situasi mendesak kita pun jadi bisa melakukan hal tersebut.


Itu adalah petikan kalimat yang kuambil dari blognya mbak Nia Angga yang sedang mengadakan Giveaway. Sebenarnya ada tiga pilihan tema yang bisa diambil, dan sewaktu membaca tema yang ketiga, ingatanku langsung terbayang saat kejadian beberapa tahun lalu itu ...

 # image by Google #

Dan ... Ini adalah sharing pengalamanku tentang : Hal tergila/ter-paling-tidak-mungkin-dilakukan yang pernah dilakukan selama hidup.


Simak Yukk ... 

Sebenarnya sih kejadian ini merupakan kejadian yang sederhana, tetapi buatku pribadi kejadian sederhana ini merupakan suatu hal tergila dimana aku sudah kehilangan akal sehat, suatu tindakan yang tidak akan mungkin kulakukan saat aku dalam kondisi normal.

# Aku dan Christina th 2004 #

Waktu itu sekitar tahun 2000 …
Anakku yang pertama, Christina tiba-tiba saja sakit panas, dan waktunya saat tengah malam lagi...
Anakku saat itu berumur sekitar 2 tahunan, dan saat itu aku masih tinggal di Surabaya. Nah pada saat kejadian ini suamiku sedang pergi ke luar kota, jadi aku tinggal sendirian bersama  anakku .O ya bersama adik perempuanku juga yang waktu itu sedang menginap di  rumah, jadi kami berdua, sama ceweknya. 

Malam itu tidak tahu kenapa , tiba-tiba Christina panas, sore dan waktu mau tidur rasanya masih baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda anakku sakit. Tahu-tahu sekitar hampir jam satu malam badannya menjadi panas sekali. Wah aku sampai bingung kenapa yah, aku coba kompres biasa , masih tidak turun panasnya. Waktu itu aku tidak punya persediaan obat penurun panas, biasanya sih aku pakai tempra, tapi pas habis saat itu. Mau minta ke tetangga yang punya anak kecilnya, sungkan, soalnya kan sudah tengah malam, kalau masih jam 9 atau 10 sih masih memungkinkan. Ini sudah jam 12 malam lebih, apalagi aku juga tidak terlalu kenal dengan tetangga-tetangga sebelah rumah. Aku bingung sekali saat itu,  apalagi suami tidak  ada lagi. Gimana yah? 

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit HCOS (sekarang sudah berganti nama dengan RS. Premier Surabaya ), tempatnya di jalan Nginden Intan barat kan lumayan dekat dengan rumahku yang ada di jalan Nginden Intan Timur, kira-kira 15 menit kalau berjalan kaki. Aku membangunkan adikku, dan minta tolong menjaga Christina selama aku pergi. Nah ini masalahnya, aku tidak bisa naik sepeda motor atau mobil, bisanya cuma naik kaki he..he , alias jalan kaki.  Mau minta tolong adik cewekku, ya sama saja, dia tidak bisa naik sepeda motor juga, idem denganku.  Jadinya waktu itu aku terpaksa jalan kaki jam satu malam pergi ke rumah sakit HCOS, karena  becak juga tidak ada saat tengah malam seperti itu. 

Kalau pagi-pagi jalan kearah sana sih sudah sering waktu hamil Christin, jalan pagi. Nah.. kalau ini, bayangkan jam 1 malam sendirian jalan kaki.  Mau bagaimana lagi, yah tetap dilakoni .. demi anak. Sepanjang jalan, masih ada satpam perumahan, dan juga orang-orang di jalan malam itu, rasanya semuanya kok memandang aku rada aneh ya, bingung, heran atau apa yah. Mungkin dalam pikiran orang-orang itu aku ini seorang wanita yang tidak bener atau istilahnya nih “wanita malam”  kali yah, ada cewek jalan sendirian tengah malam, mau kemana? Aku sih cuek saja, meskipun ada juga sedikit ketakutan karena jalanan sudah gelap sekali,  sekitar 15 menit aku berjalan cepat-cepat ke HCOS membeli tempra dan pulang dengan jalan kaki lagi. 

Untunglah setelah minum obat panasnya, demam anakku mulai turun. Beberapa hari berselang setelah kejadian, suami sudah ada di Surabaya lagi, aku cerita ke dia tentang peristiwa itu. Hah..? Suami kaget, “kenapa tidak telpon aku saat itu?” tanyanya .. “
“Ngapain juga jalan kaki tengah malam, telpon saja rumah sakitnya ..”
Deg … aku melongo … O iya ya …aku tersadar, baru mikir sekarang nih, kenapa waktu itu aku kok tidak kepikiran nelpon RS nya saja, siapa tahu obatnya  bisa diantar, meskipun ditambahi ongkos kirim berapa saja pun, daripada jalan tengah malam sendirian, bahaya. Kalau misalnya RS HCOS tidak bisa mengantar, aku kan bisa minta tolong ke satpam perumahan dan kuberi imbalan uang sebagai rasa terima kasih  …. Haduuhhh … kenapa saat itu aku tidak bisa berpikir jernih ya…. Rasanya mungkin aku sudah kehilangan akal sehat, sudah tidak bisa mikir lain-lain, yg kepikiran cuma aku harus beli obat buat anakku yg sakit panas, itu saja.

Sekarang, kalau dipikir-pikir aku jadi ngeri sendiri, kok bisa ya aku melakukan tindakan nekat, suatu tindakan yang bisa dibilang gila banget deh, tidak mungkinlah kulakukan dalam kondisi normal seperti sekarang ini. .. Mungkin bagi orang lain, tindakan sederhana ini bukanlah suatu tindakan gila yang ekstrem atau heboh, tapi bagi diriku pribadi, bagi suamiku dan bagi keluargaku, apa yang sudah kulakukan saat terdesak itu benar-benar suatu perbuatan yang bisa dibilang nekat/gila, dimana aku seakan terhipnotis, kehilangan akal sehatku. 

Aku yang termasuk cewek yang hampir tidak pernah keluar malam, saat kejadian itu berani keluar tengah malam, sendirian dan berjalan kaki pula. Bila ada orang yang berniat jahat kepadaku malam itu, mungkin aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan anak dan keluargaku tercinta. Syukurlah  aku tidak kenapa kenapa waktu itu, aku bisa pulang ke rumah dengan selamat dan anakku  bisa sembuh kembali. 

Aku cuma bisa bersujud syukur kepada Tuhan, karena Dia menjaga keselamatanku saat kejadian itu, dan bersyukur juga karena ada adikku yang menginap di rumahku saat itu. Karena kalau adikku tidak ada, siapa yang akan menjaga anakku selama aku beli obat? Mungkin saja aku akan membawa anakku yang sedang sakit panas itu bersamaku berjalan kaki membeli obat … wah… kalau itu terjadi … beneran deh… lebih gila lagi itu namanya … Setiap mengingat kejadian itu, aku selalu memanjatkan syukur ke hadirat Tuhan yang sudah menjaga kami sampai sekarang ini …

 # Aku dan Christina th 2011 #

Ini bisa jadi pengalaman buatku, mungkin buat teman-teman juga, kalau punya anak kecil obat harus lengkap tersedia buat persediaan, jadi kalau dibutuhkan sudah tidak kebingungan lagi. Kalau tidak kepake dan jadi kadaluwarsa gimana dong? Yah itu juga salah satu resikonya memang. Satu lagi, rasanya kalau di kota besar seperti Surabaya, harus bisa menyetir mobil atau sepeda motor deh karena jalannya juga jauh-jauh, kalau seperti aku susah, bisanya cuma naik becak atau jalan kaki doang he..he.. Hmmm. Moga-moga aku tidak kehilangan akal sehat lagi yah, kapok hehe …


4 komentar:

  1. hehehehe komentar ku sama kayak suami mbak..

    pas cerita diliatin satpam perumahan, aku mikir "lha ada satpam, kenapa ga minta dianterin satpam ajah :d"

    tapi semua ada hikmahnya yah, temenku jadi belajar motor en nyetir mobil karena dia pernah mengalami kejadian yang sama kayak yang mbak alami, dan kebetulan memang dia LDR ama suaminya.
    malah mbak masih beruntung RSnya deket :)

    terima kasih atas partisipasinya. sudah dicatat sebagai peserta :)

    salam buat sicantik yaaa

    BalasHapus
  2. wah ceritanya seru juga mbak, saya baca sampai muter2 panjang bgt :D

    BalasHapus
  3. di saat kepepet, kadang2 apa yg sepertinya ga bakal mampu kita lakuin, jd terbukti bisa mbak ;).. apalagi kalo itu demi anak tersayang ;)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...